
Tuberkulosis merupakan salah satu masalah kesehatan global yang memerlukan perhatian khusus. Diperkirakan sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi kuman tuberkulosis. Menurut WHO, setiap detik ada satu orang yang terinfeksi TBC di dunia. Indonesia sendiri menempati peringkat kedua sebagai negara dengan kasus TBC terbanyak setelah India. Total jumlah kasus TBC di Indonesia per tahun 2016 adalah 351.893. WHO bahkan memperkirakan 583.000 kasus baru TBC terjadi setiap tahun di Indonesia. Padahal, pengobatan TBC terbilang cukup sederhana — dengan kombinasi antibiotik resep dokter.
Namun, salah satu penyebab kenapa kasus baru TB terus bermunculan dan banyak yang tidak berhasil disembuhkan adalah kegagalan pengobatan. Pasalnya, pengobatan TBC bisa memakan waktu hingga 6 sampai 9 bulan sehingga berisiko tinggi untuk lupa minum obat atau malah terputus di tengah jalan. Pada beberapa kasus, pengobatan TBC bahkan bisa berjalan hingga tahunan.
Pengobatan TBC di Indonesia
Tingkat keberhasilan pengobatan semua kasus tuberkulosis di Indonesia pada tahun 2016 adalah 85%, merosot dari tahun 2014 yang berhasil mencapai 87 persen. Padahal, Kemenkes menetapkan standar minimal angka keberhasilan pengobatan sebesar 90 persen.
Di Indonesia, pengobatan TB terdiri atas 2 tahap, yaitu tahap awal (intensif) dan lanjutan. Di tahap awal, pengidap TB dengan yang menjalani pengobatan rutin akan tidak lagi menular dalam kurun waktu dua minggu. Dua bulan sejak pengobatan awal, dahak yang mengandung kuman TB hidup (BTA positif) akan berbalik menjadi negatif.
BTA negatif tetap dapat memiliki risiko penularan, tapi jauh lebih kecil dibandingkan BTA positif. Pada pengidap TB yang mengalami resistensi, peluang balik dari BTA positif ke negatif hanya sekitar 50% dan angka kesembuhan hanya sebesar 65%.
Sedangkan di tahap lanjutan, jumlah dan dosis obat yang diberikan akan berkurang, tapi durasi pengobatannya berlangsung lebih lama. Tahap ini penting untuk menyingkirkan kuman yang resisten sehingga tidak terjadi kekambuhan atau resistensi.
Mengapa pengobatan TBC memerlukan waktu lama?
Bakteri penyebab TBC, M. tuberculosis, adalah jenis bakteri yang tahan terhadap asam. Begitu masuk ke dalam tubuh, bakteri ini bisa “tertidur” lama alias berada di fase “dorman” — mereka tetap ada di dalam tubuh, namun tidak aktif berkembang biak. Padahal, kebanyakan antibiotik justru berfungsi saat bakteri ada di fase aktif. Fase dorman inilah yang diduga membuat bakteri kebal terhadap efek obat antibiotik (resisten antibiotik).
Memang, kebanyakan bakteri penyebab TB akan mati saat pengobatan berjalan di minggu kedelapan, tapi beberapa bakteri yang masih “tertidur” dan sudah kebal obat tetap memerlukan pengobatan lebih lanjut. Apabila tidak diobati, kemungkinan penyakit TBC Anda bisa kambuh, ditambah dengan risiko kuman yang menyerangnya menjadi semakin kebal terhadap obat.
Oleh karena itu, pengobatan TB memerlukan waktu yang lama dengan kombinasi beberapa macam antibiotik yang memiliki cara kerja berbeda. Tujuannya adalah untuk membunuh bakteri yang aktif sekaligus yang masih “tertidur” dan yang sudah resisten.
Resistensi antibiotik dapat memperlama waktu pengobatan
Bakteri dikatakan resisten ketika mereka sudah kebal dan tidak terpengaruh oleh pengobatan TBC. Bakteri penyebab TB umumnya resisten terhadap dua jenis obat TB, yaitu rifampicin dan isoniazid dengan atau tanpa obat antituberkulosis lainnya yang disebut sebagai MDR-TB (multidrug resistance-Tuberculosis).
Pada kondisi yang lebih parah, kuman tidak hanya resisten terhadap pengobatan TBC lini pertama tersebut, tapi juga sampai lini kedua, yang disebut sebagai XDR-TB (Extensively Drug Resistant- Tuberculosis).
Resistensi bisa disebabkan oleh pengobatan yang terputus, jadwal minum obat yang berantakan, dan lainnya. Akibatnya, pengobatan TBC menjadi sangat sulit untuk menjadi efektif sehingga memerlukan waktu yang lebih panjang — minimal 12 bulan, bahkan bisa sampai 24 bulan.
Prioritas utama untuk menangani resistensi obat adalah mencegahnya sebelum terjadi lewat pengobatan TBC yang tepat dan teratur, serta pengawasan yang baik.
@hellosehat

0 komentar:
Posting Komentar